Rumah
menjadi elemen yang penting dalam kehidupan. Tidak perlu besar, mahal, mewah,
ataupun elit untuk menjadikan sebuah rumah Home Sweet Home. Kenyamanan dan
sesuai Kebutuhan saja sudah cukup. Sesederhana itu.
Sebagai Perancang sekaligus klien, saya ingin memiliki rumah
impian yang tidak terlalu besar, berada di daerah yang tenang, dikelilingi
hutan pinus, dan unik, yang dapat menginspirasi orang lain. Karena itu, saya
mewujudkan rumah impian saya dalam maket iniDi Indonesia
banyak dijumpai masyarakat kurang mampu yang memanfaatkan jembatan sebagai
tempat tinggal. Tentu saja hal ini dipandang negatif dari segi tata kota dan
juga keamanan si masyarakatnya sendiri. Karena itu saya mencoba untuk
memositifkan keadaan ini dengan membangun rumah di bawah jembatan dan tetap
memerhatikan aspek-aspek pembangunan dan estetika. Untuk bentuk fasadnya saya mengadopsi dari Sangkar Burung yang
kemudian saya modifikasi.
TENTANG NAMA
Saya sendiri melihat rumah ini sebagai “Si kecil yang sedang berjuang
untuk tetap bertahan”, karena itu saya menamakan rumah ini sebagai :
LIT-FIGHTER
LIT-nya
berasal dari kata Little. Selain itu, proses pencapaian pada rumah ini juga
memerlukan Perjuangan, karena pada awalnya kita harus menaiki anak tangga yang
cukup banyak, baru kemudian turun menggunakan lift mini.
Bagian Eksterior dari rumah ini bergaya Rustic, agar semakin
menyatu dengan kondisi lingkungannya yang alami. Untuk maketnya sendiri, saya
menggunakan bahan-bahan sederhana seperti korek api, kardus bekas, dan kertas
pembungkus nasi.
Sedangkan bagian Interiornya, saya terinspirasi dari Studio seorang
arsitek, Adriana Natcheva, namun saya membuat tema rumah ini bergaya Jepang,
dengan penggunaan meja rendah dan bantal sebagai alas duduk. Hal ini dilakukan
untuk meminimalisir penggunaan perabot, sehingga jembatan tidak menopang beban
terlalu berat.
Lit-Fighter hanya memiliki 1 kamar yang di buat di lantai Mezzanin
(memanfaatkan tinggi jembatan untuk memaksimalkan ruangan), kemudian dapur,
ruang tamu, area makan, dibuat tanpa sekat, Kamar mandi dibuat berdampingan
dengan entrance yang berupa ruang lift
DESAIN
Bagian Eksterior dari rumah ini bergaya Rustic, agar semakin
menyatu dengan kondisi lingkungannya yang alami. Bentuknya sendiri seperti
balok yang di “coak (dikurangi)”. Untuk maketnya sendiri, saya menggunakan
bahan-bahan sederhana seperti korek api, kardus bekas, dan kertas pembungkus
nasi.
Sedangkan bagian Interiornya, saya terinspirasi dari Studio seorang
arsitek, Adriana Natcheva, namun saya membuat tema rumah ini bergaya Jepang,
dengan penggunaan meja rendah dan bantal sebagai alas duduk. Hal ini dilakukan
untuk meminimalisir penggunaan perabot, sehingga jembatan tidak menopang beban
terlalu berat. Selain itu, rumah ini banyak menggunakan bahan kaca, agar rumah
yang berukuran kecil lebih terlihat luas.
Lit-Fighter hanya memiliki 1 kamar yang di buat di lantai Mezzanin
(memanfaatkan tinggi jembatan untuk memaksimalkan ruangan), kemudian dapur,
ruang tamu, area makan, dibuat tanpa sekat, Kamar mandi dibuat berdampingan
dengan entrance yang berupa ruang lift (pengganti pintu).
ENTRANCE
Rumah ini memiliki kelebihan pada proses pencapaian entrancenya. Tamu
disambut dengan rangkaian tangga yang cukup banyak, kemudian dilanjutkan
beberapa tangga lagi menuju lift mini yang ada di atas jembatan. Dari Lift
langsung menuju ke dalam rumah.
PROSES
Pembuatan maket ini
tidak berjalan mulus. Saya harus mengulang berkali-kali. Masalahnya entah itu
salah potong, salah bentuk, salah ukuran, dan lain-lain. Saya juga harus rela
mengurangi jam tidur saya selama 1 minggu. Tapi, dari sini juga saya belajar
untuk menjadi seorang FIGHTER. Belajar sabar, kreatif, dan yang terutama,
BERIMAJINASI.
No comments:
Post a Comment