“???, ini apa? Rumah? Kok
terlihat aneh? Sama sekali nggak seperti rumah. Kamu ngayal ya?!”
Beginilah respon yang saya dapatkan tentang maket saya ini. Setiap orang yang melihatnya kebanyakan mengerutkan kening atau mengusap dahinya. Meskipun begitu saya tidak bisa begitu saja menyalahkan mereka atas respon-jujur-meredupkan semangat juang saya tersebut, sebab memang begitulah adanya maket saya ini. Aneh.
Beginilah respon yang saya dapatkan tentang maket saya ini. Setiap orang yang melihatnya kebanyakan mengerutkan kening atau mengusap dahinya. Meskipun begitu saya tidak bisa begitu saja menyalahkan mereka atas respon-jujur-meredupkan semangat juang saya tersebut, sebab memang begitulah adanya maket saya ini. Aneh.
Saya
memberi nama maket ini Random House. Pemilihan
nama ini bukan karena respon diatas
ataupun tanpa alasan. Disebut random karena memang rumah ini terkesan
acak-acakan. Ini akan terlihat jelas jika dilihat dari atas. Anda akan melihat
bentuk atap yang sama sekali tidak beraturan, meskipun tampaknya juga tidak
beraturan, sebab tidak akan diketahui bagian mana yang depan atau belakang jika
anda berotodidak menemukan tampaknya baik itu depan, belakang, samping kanan maupun
kiri.
Pada
bangunan kebanyakan saat ini pemilihan bentuk cenderung berbentuk kubus, balok
atau tabung yang notabene berasal dari bidang persegi atau persegi pajang.
Sangat sulit kita lihat terdapat bangunan yang mengandung unsur segitiga
seperti bangunan piramida. Bentuk ini menginspirasi saya untuk menggunakan
unsur segitiga yang ada pada bangunan kuno tersebut kedalam maket yang saya
buat. Maka dalam kesempatan ini saya lebih cenderung mengoptimalkan unsur
segitiga yang me-rupakan bentuk bidang paling stabil sampai saat ini pada maket
yang saya kerjakan. Namun jangan disalah artikan bahwa saya membuat bangunan
berbentuk piramida, tepatnya maket ini didominasi oleh unsur segitiga pada
lekukan dinding-dindingnya.
Pengoptimalan
bentuk segitiga pada bangunan ini mungkin memberikan visual yang terlihat dan
terkesan aneh karena tonjolan yang tidak biasa seperti prisma siku-siku dan
setengah limas persegi yang dipotong secara diagonal pada hampir setiap sisi
dindingnya. Tetapi nuansa inilah-yang bagi saya-menghadirkan suatu bentuk yang crazy dalam transformasi ruang dan
bentuk suatu bangunan.
Seperti
yang telah saya sampaikan diatas, tampak dari bangunan ini tidak mudah diprediksi
dimana bagian depan, belakang, kanan atau kirinya, bahkan bagian enterencenyapun juga sulit untuk ditebak
dimana ia berada. Hal ini mungkin berkaitan dengan bentuk denahnya yang sengaja
dibuat terpusat ketengah atau bisa dikatakan denahnya berbentuk lingkaran
tetapi tidak sejati atau tidak teratur karena tonjolan-tonjolan pada setiap
sisinya tersebut, sehingga membuat setiap orang bingung untuk dapat menentukan
tampak dari bangunan ini.
Meskipun
begitu, bentuk denah yang seperti ini dirancang supaya:
1.
Zona public,
servic dan private dan juga zona lainnya dapat terhubung dengan baik (aspek
ruang).
2.
Komunikasi dan interaksi antara setiap individu
yang bernaung dibawahnya bisa tetap terjaga (aspek sosial).
Meskipun
terpusat ketengah bukan berarti bagian tengah tersebut merupakan sebuah ruangan
seperti ruang keluarga atau ruang santai.
Bagian tengah tersebut memang sepenuhnya merupakan jalur yang
menjembatani atau titik temu setiap ruangan
yang ada dalam bangunan ini.
Jadi, jika diibaratkan bagian tengah ruangan yang merupakan titik temu adalah
Pulau Hawaii maka ruangan-ruangan yang mengelilingi bagian tengah tersebut
adalah Samudera Pasifik yang mengelilingi pulau tersebut. Sama seperti fungsi
lorong pada rumah-rumah Jepang (seperti rumah Nobita atau Shincan).
Bicara
mengenai denah tidak lengkap rasanya kalau tidak menyinggung ruangan yang ada
didalamnya. Singkat saja, didalam bangunan ini terdapat 1(satu) ruang tamu yang
merangkap sekaligus sebagai ruang keluarga, 1(satu) kamar tidur, 1(satu) ruang
kerja/ruang belajar, 1(satu) ruang makan, 1(satu) dapur dan 1(satu) kamar
mandi. Jadi total semua ruangan adalah 6 ruangan. Dimana bangunan ini mengusung
konsep urban house(cinta lingkungan).
Walaupun
bentuknya secara kasat mata tidak sesuai dengan konsep yang diusung, tetapi
terapannya bisa dijadikan acuan dalam menjalankan konsep ini. Penggunaan bukaan
atap yang lebar dan tinggi serta penerapan konsep rumah tanpa pintu bertujuan
untuk mengoptimalkan fungsi angin yang ada, apalagi site plan dari bangunan ini sendiri terletak di daerah sabana yang
memiliki hembusan angin yang cukup tetapi dengan cuaca yang panas. Sehingga
dapat dikatakan bahwa meskipun udara terasa panas tetapi pada bagian dalam
ruangan akan terasa sejuk karena sirkulasi angin yang terjaga. Jadi, penggunaan
AC tidak diperlukan pada rumah ini.
Selain
itu, bukaan atap yang lebar dan tinggi digunakan juga sebagai pencahayaan bagi
ruangan didalamnya karena jendela atau bukaan cahaya yang ada pada bangunan ini minim sekali. Pada bagian atas
yang kosong dari tumpukan atap, dipasangi kaca lebar yang saling mengunci
diantara atap-atap yang lain yang bertujuan untuk menghantarkan sinar
matahari kedalam ruangan dibawahnya.
Sehingga ruangan yang redup atau mungkin gelap akan menjadi terang meskipun
bukaan cahaya atau jendela yang ada sedikit sekali.
MAKET
By : Rahmat Jul Febri



No comments:
Post a Comment